Pupuk Non-subsidi PG Menyasar Probolinggo dan Wonosobo

39

GRESIK l – PT Petrokimia Gresik (PG) produsen pupuk untuk solusi agroindustri menunjukkan komitmennya dalam peningkatan produktivitas pertanian. Tiada hentinya memasarkan pupuk non subsidi sebagai penetrasi pasarnya. Setelah membidik daerah pertanian di Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur. Kini, anak usaha PT Pupuk Indonesia (persero) itu kembali membidik sentra pertanian di Wonosobo, Jawa Tengah melalui program “Pasar Murah Produk Petrokima Gresik”.

Kedua tempat dipilih karena sentra pertanian tersebut terkenal subur karena dekat dengan area pegunungan yaitu Gunung Bromo dan pegunungan Dieng. Merupakan kawasan pertanian sentra holtikultura terbesar di Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan ketinggian 500 hingga 1000 meter dari permukaan laut.

Direktur Pemasaran PT Petrokimia Gresik (PG) Meinu Sadariyo mengatakan, selain memasarkan produk non-subsidi pihaknya juga edukasi pertanian kepada petani serta konsultasi pelayanan uji tanah gratis dengan menyediakan mobil uji tanah.

“Petani bisa membawa sample tanahnya dan dapat mengetahui kondisi terkini tanah mereka. Setelah dilakukan uji tanah, petani akan memperoleh rekomendasi pemupukan yang tepat dan berimbang. Tujuannya agar lahan pertanian memiliki produktivitas optimal dan berkelanjutan,” ujar Meinu saat menghadiri Pasar murah Produk Petrokimia Gresik di Wonosobo, Jum’at (19/07/2019).

Direktur Utama PG Rahmad Pribadi menyatakan bahwa dalam pasar murah ini, petani bisa menebus produk non-subsidi melalui kupon seharga Rp 250 ribu. Dari kupon ini, petani bisa mendapatkan satu sak pupuk NPK Phonska Plus (kemasan 25 kilo), satu sak pupuk NPK Petro Nitrat (kemasan 25 kilo), satu pak dekomposer Petro Gladiator (kemasan 1 kilo), dan satu pak pupuk hayati Petro Biofertil (kemasan 2 kilo).

“Total harga produk tersebut jika dibeli di kios berkisar di harga Rp388 hingga Rp518 ribu, sehingga diskon yang didapatkan petani melalui pasar murah ini mencapai sekitar 35-50 persen,” tambahnya.

kegiatan pasar murah ini merupakan salah satu strategi program transformasi bisnis, yaitu memperkuat brand image produk non subsidi untuk memperkuat posisi perusahaan di pasar komersil domestik. Hal ini sekaligus menjadi upaya perusahaan untuk memperkuat posisi produk non subsidi terkait wacana pengalihan subsidi pupuk.

Berdasarakan hasil riset dan uji coba di berbagai daerah, rangkaian produk PG tersebut telah terbukti mampu meningkatkan produktivitas termasuk di sektor holtikultura.

“Kami memiliki banyak produk non-subsidi dari hulu hingga hilir seperti benih unggul, pupuk, pengendalian hama, dekomposer, hingga probiotik. Karena taget kami adalah untuk menjadi dominant player dan market leader di Indonesia,” pungkas Rahmad. (net)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here