SDN Tlogopatut 2 Diet Sedotan Plastik Bareng EH Gresik

238

GRESIK l – Penggunaan sedotan plastik sekali pakai di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia. Di tengah keprihatinan terhadap masalah limbah plastik yang kian mengancam bumi dan perairan global, upaya untuk mengurangi penggunaan benda plastik yang satu ini semakin gencar dilakukan, termasuk juga di Indonesia.

Data yang dikumpulkan oleh Divers Clean Action memperkirakan pemakaian sedotan di Indonesia setiap harinya mencapai 93.244.847 batang. Sedotan itu berasal dari restoran, minuman kemasan, dan sumber lainnya (packed straw). Jika jumlah tersebut direntangkan akan mencapai jarak 16.784 km atau sama dengan jarak tempuh Jakarta ke kota Meksiko.

Masih dalam rangka Hari Anak Nasional,  komunitas Earth & Human Gresik (EH Gresik) mengajak siswa SDN Tlogo Patut 2 Gresik belajar tentang diet sampah plastik. Dalam acara yang berlangsung selama 2 jam lebih tersebut, para siswa ditunjukkan video tentang problem sampah plastik sekali pakai dan dampaknya serta upaya pencegahannya.

Ekspresi wajah para siswa beraneka macam saat menonton video tersebut, tapi yang mencolok dengan ekspresi wajah sedih dan takut ketika tayangan penyelamatan penyu saat hidungnya kemasukan sedotan plastik, hampir semua siswa menutup mata tidak tega. sampai akhirnya sedotan plastik tersebut dapat dikeluarkan dari hidung penyu yang bercampur darah.

Dari beberapa tayangan tersebut Ubet kordinator EH Gresik mengatakan, sampah plastik terutama sampah plastik di laut menjadi salah satu isu penting di Indonesia. Riset Jambeck di 2015 menyebutkan bahwa Indonesia merupakan peringkat kedua dunia sebagai penyumbang sampah plastik ke laut.

“Apakah kita tetap diam dan tidak peduli serta tega dengan kondisi laut yang seperti itu, laut penuh dengan sampah plastik. Salah satu yang sering menjadi masalah adalah sedotan plastik dan jumlahnya mencapai sebesar 1,29 juta ton per tahun atau setara dengan 215.000 gajah jantan Afrika dewasa,” ungkapnya.

 

ilustrasi penggunaan sedotan ramah lingkungan

Perubahan gaya hidup cenderung lebih memilih hal yang instan dan praktis menyebabkan menyebabkan sampah plastik di Kota kota besar dari tahun ke tahun terus meningkat. Faktanya 15-17 persen sampah di Indonesia adalah sampah plastik.

Data Divers Clean Action (DCA) menyebut pemakaian sedotan plastik di Indonesia mencapai 93.244.847 batang, berasal dari restoran, minuman kemasan, dan sumber lainnya. Sedangkan Fakta eco watch.org menyebutkan di dunia ada 500 juta sedotan plastik dipakai setiap hari. Bahkan di Amerika Serikat angkanya mencapai 175 juta sedotan plastik yang dipakai setiap hari.

Jumlah konsumsi sedotan per hari ini jika disusun memanjang, panjangnya akan mencapai 16.784 km atau setara dengan jarak Jakarta-Mexico City. Jika diakumulasi seminggu, panjangnya bisa mencapai 117.449 km atau setara dengan jarak 3 kali keliling bumi.

Bu Ninik menyatakan bahwa Kebijakan sekolah terhadap siswa untuk membawa botol minum (tumbler) sendiri serta larangan penjual makanan kantin di sekolah untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai sudah ada. “Akan tetapi anak-anak belum terbiasa dengan kebijakan tersebut, lama-lama mereka pasti terbiasa.” Tambah bu guru yang membidani program Adiwiyata.

Wiwik salah satu anggota EH Gresik mengatakan, ini adalah sebuah ajakan dari kami, satu langkah kecil yang sangat berarti, yaitu dengan mengurangi penggunaan sedotan plastik sekali pakai, lalu menggantinya dengan sedotan yang ramah lingkungan. “jika kalian mau, kalian bisa minum tanpa menggunakan sedotan, toh tidak mengurangi rasa dari minuman itu kan?” tambah Wiwik.

Tujuan program ini agar rasa kepedulian terhadap lingkungan pada usia dini perlu diajarkan lebih dalam, sehingga saat dewasa akan lebih peduli terhadap lingkungan. Pembagian 19 sedotan ramah lingkungan terhadap siswa yang kreatif menutup kegiatan kampanye lingkungan tersebut. “Kedepannya para siswa kemana saja tetap membawa Tumbler dan sedotan ramah lingkungan,” pungkasnya. (fik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here